Baturaja-Di balik dinding ruang perawatan RSUD Ibnu Sutowo Baturaja, seorang ibu muda tengah berjuang mempertahankan hidup. Ibu Fitriyana, warga RT 13 RW 06 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Baturaja Timur, kini menjalani perawatan intensif akibat kanker ovarium stadium 3 yang telah menggerogoti tubuhnya. Dalam kondisi lemah, dengan perut membesar akibat penumpukan cairan dan tubuh yang kian menyusut, ia tetap menggenggam harapan—meski di tengah keterbatasan ekonomi dan cobaan hidup yang bertubi-tubi.
Di tengah situasi yang memilukan ini, perhatian dan kepedulian datang dari pucuk pimpinan daerah. Bupati Ogan Komering Ulu (OKU), H. Teddy Meilwansyah, S.STP., MM., MPd., meski sedang menjalankan tugas dinas luar daerah, tetap mengikuti perkembangan kondisi Ibu Fitriyana secara langsung. Melalui perwakilan yang ditugaskan, beliau menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat menjenguk secara langsung, namun menitipkan doa dan harapan terbaik.
“Saya mohon maaf belum bisa hadir langsung karena sedang menjalankan tugas luar daerah. Namun saya mendoakan semoga Ibu Fitriyana lekas sembuh, pulih seperti sediakala, dan bisa segera berkumpul kembali bersama keluarga tercinta,” ujar Bupati Teddy dalam pesan yang disampaikan melalui perwakilan.
Sebagai bentuk kepedulian nyata, Bupati Teddy juga menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada keluarga Ibu Fitriyana. Tak hanya itu, beliau menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten OKU melalui Dinas Kesehatan siap memfasilitasi kebutuhan ambulans apabila Ibu Fitriyana harus dirujuk ke RS Urip Sumoharjo di Bandar Lampung untuk penanganan lanjutan.
Kepedulian pemerintah daerah turut diperkuat oleh kehadiran Plt. Kepala Dinas Sosial OKU, Halim Burni, S.Sos., yang menyerahkan bantuan tambahan. Langkah ini menjadi simbol nyata bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap warganya yang sedang menghadapi ujian berat.
Namun, di balik semua itu, kenyataan tetap menyayat hati. Suami Ibu Fitriyana, Edi Edian, yang selama ini bekerja sebagai buruh serabutan, kini juga terbaring sakit di rumah. Tiga anak mereka yang masih kecil harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran kedua orang tua yang sehat. Rumah tangga ini bukan hanya sedang diuji oleh penyakit, tetapi juga oleh kemiskinan yang menggigit tanpa ampun.
Firman, kakak kandung Ibu Fitriyana, dengan suara lirih mengisahkan betapa berat beban yang kini dipikul keluarganya.
“Adik saya sakit, suaminya juga sakit. Tapi hidup terus berjalan. Anak-anak tetap butuh makan, sekolah, dan perhatian,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Meski biaya pengobatan ditanggung pemerintah, beban lain seperti ongkos transportasi, biaya pendampingan selama perawatan, serta kebutuhan harian keluarga menjadi tantangan besar yang tak bisa dihindari.
“Berobat memang gratis, tapi ongkos ke rumah sakit, makan, dan kebutuhan anak-anak itu yang kami tidak sanggup,” lanjut Firman.
Kini, harapan keluarga ini bertumpu pada uluran tangan para dermawan. Bantuan dapat disalurkan melalui rekening BRI atas nama Firmansyah dengan nomor 5606.01.018197.535, atau menghubungi langsung ke 0821-7526-5668.
Kisah Ibu Fitriyana bukan sekadar potret penderitaan, melainkan panggilan nurani bagi kita semua. Di tengah gemerlap dunia digital dan hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada mereka yang berjuang mempertahankan hidup dengan segala keterbatasan. Mari kita hadir, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi.
Karena di balik setiap penderitaan, selalu ada ruang bagi kebaikan untuk tumbuh dan menyembuhkan. Mari kita buktikan bahwa kemanusiaan belum mati.(Herlan)**





